Imam Mazhab sepakat bahwa : "Haji merupakan salah satu rukun islam. ia adalah fardhu yang di wajibkan atas setiap muslim yang merdeka, balig, dan mempunyai kemampuan, dalam seumur sehidup sekali.
Dari wukuf arafah, melontar jumroh, sa'i dan seterusnya. si haji lupa kalau ibadah tersebut disamping sikap ta'abudi juga simbol-simbol perlawanan nurani.
Semua berkumpul di satu lapang yang luas, mengenakan pakaian serba putih, tak ada yang menonjol suku dan bangsa, apalagi bendera ormas dan partai, semua bermunajat mengharap ampunan dan rahmat Allah Ta'ala. setidaknya itulah gambaran dulu si Haji berwukuf di padang arafah sebagai salah satu prosesi manasik Haji.
Sikapnya yang menonjol ke sukuan plus mengaku paling hebat, paling bisa, paling unggul, paling berani, paling bersih, paling adil, paling peduli, dan paling-paling yang lain terpraktekkan secara sadar di tengah kehidupan bermasyarakat di negerinya, padahal umur kepulangan hajinya belum genap satu tahun.
Bukan tidak boleh bersuku karena itulah sebuah realitas, bukan tidak boleh berbuat hebat, berani, bersih, adil, peduli dan seterusnya karena semua itu adalah amal ibadah. Tetapi kalau sudah mengaku paling ini dan paling itu, ini yang menjadi ganjil. bukankah watak dan perilaku semacam itu adalah sebagian dari penyakit jiwa...? semua itu ber-efek negatif dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
Bukankah ketika dia
Menganggap sukunya paling hebat itu artinya suku lain paling rendah..?
Menganggap dirinya paling bisa sama artinya orang lain paling bodoh..?
Menganggap dirinya paling bersih itu artinya orang lain paling kotor..?
Menganggap dirinya paling adil sama dengan orang lain paling lalim..?
Menganggap dirinya paling peduli berarti pihak lain paling acuh..?
Wukuf di arafah mengajarkan manusia untuk tidak bersikap arogan pada orang lain saat dia berkumpul di sana mengenakan pakaian satu warna bersama berjuta orang bermunajat kepada Allah.
Semua bersemangat melontar batu dari satu jumroh ke jumroh lain tidak kurang dari 70 batu di lempar yang di bagi pada beberapa fase, harus tepat sasaran dan tidak boleh melesat bukan pada sasaran. itulah gambaran salah satu manasik haji. sepintas, pilar besar kokoh berdiri itu yang terus-menerus dan dari tahun ke tahun yang di lempari. ada Simbol apa di balik ini...? jawabnya cukup kita membaca kembali tentang sejarah keluarga Ibrahim as. silahkan di baca juga : http://maknaibadah.blogspot.co.id/2017/08/pesan-moral-keluarga-ibrahim-as.html
Iblis yang tidak suka dengan ketaatan Nabi Ibrahim as dan keluarganya terus memprovokasi agar tidak patuh kepada perintah Allah SWT. saat Nabi Ibrahim as melalui mimpinya diperintah Allah untuk menyembelih anaknya, Ismail as. nah si iblis tak ingin perintah Allah SWT itu terlaksana. Demikian juga saat diri dan keluarganya taat beribadah kepada Allah SWT si iblis tak ingin mereka semua menjalankan hal itu.
Kesel, sebel, keki, marah, muak atas segala provokasi iblis la'natullah itu, diambilah batu-batu dan dengan penuh semangat dilemparkan ke arah Iblis. rupanya Nabi Ibrahim as dan keluarganya tidak berhasil di goda si Iblis la'natullah.
Belum genap setahun masa hajinya, si haji terlihat asyik di bawah panggung berjoget bersama para penyanyi dengan segudang gaya dan goyangan plus dengan model baju ala kadarnya. si haji asyik bermain kartu domino dari pagi hingga malam lupa sholat. si haji asyik nongkrong di pinggir gang menjadi juri setiap kaum hawa yang lewat. si haji tetap asyik ngobrol kesana kemari saat tetangganya yang belum menunaikan haji mengajak dirinya pergi mengaji.
Lupakah dirinya kalau beberapa bulan yang lalu saat melontar jumroh dengan amat sangat bahkan sekuat tenaga dia lempar pilar batu kokoh bertengger itu yang sebenarnya adalah simbol perlawanan da ketegaran Nabi Ibrahim as dan keluarganya dalam menangkis segala bentuk propaganda Iblis la'natullah untuk tidak taat dan maksiat kepada Allah.
Semua berlari kecil dari bukit shafa ke bukit marwah dan dari marwah ke shafa sebanyak tujuh kali, itulah gambaran salah satu rukun haji dan umrah yang di sebut sa'i. sebagaimana yang di sebutkan dalam Fiqih Empat Mazhab : "Sa'i merupakan salah satu rukun di antara rukun-rukun haji dan umrah. demikian menurut pendapat Imam Malik dan Imam Syafi'i. namun Imam Hanafi berpendapat : "Sa'i merupakan kewajiban yang dapat di ganti dengan membayar Dam. sedangkan menurut pendapat Imam Hambali di peroleh dua riwayat : Pertama, wajib kedua mustahab.
Sepulang haji sikap masa bodoh dan ketidakpedulian terhadap pendidikan keagamaan anaknya, apalagi penderitaan masyarakat di sekitar semakin di perlihatkan. anak yatim dan kaum dhua'fa dengan segala teriakan batinnya sama sekali tidak terdengar.
Si haji lupa bahwa saat dirinya bersa'i disamping memang rukun haji dan umrah sebagaimana yang telah di sebutkan di atas, ada apa dengan simbol sa'i ini...? bukankah sa'i merupakan simbol perjuangan Siti Hajar dalam memperhatikan fisik dan mental-spiritual anaknya "Ismail as."..? dicarinya air kesana kemari dari bukit shafa ke bukit marwah.
Ciri Haji Mabrur antara lain : Kemampuan menginplementasikan simbol-simbol haji itu dalam wujud nyata dalam diri, keluarga dan masyarakat.
Sumber : Secangkir kopi Santri (kritik dan Celoteh), Muhammad Yusuf Hidayat-KH.Ma'mur Murod-Fiqih Empat Mazhab
"Semoga Bermanfaat"
Dari wukuf arafah, melontar jumroh, sa'i dan seterusnya. si haji lupa kalau ibadah tersebut disamping sikap ta'abudi juga simbol-simbol perlawanan nurani.
Semua berkumpul di satu lapang yang luas, mengenakan pakaian serba putih, tak ada yang menonjol suku dan bangsa, apalagi bendera ormas dan partai, semua bermunajat mengharap ampunan dan rahmat Allah Ta'ala. setidaknya itulah gambaran dulu si Haji berwukuf di padang arafah sebagai salah satu prosesi manasik Haji.
Sikapnya yang menonjol ke sukuan plus mengaku paling hebat, paling bisa, paling unggul, paling berani, paling bersih, paling adil, paling peduli, dan paling-paling yang lain terpraktekkan secara sadar di tengah kehidupan bermasyarakat di negerinya, padahal umur kepulangan hajinya belum genap satu tahun.
Bukan tidak boleh bersuku karena itulah sebuah realitas, bukan tidak boleh berbuat hebat, berani, bersih, adil, peduli dan seterusnya karena semua itu adalah amal ibadah. Tetapi kalau sudah mengaku paling ini dan paling itu, ini yang menjadi ganjil. bukankah watak dan perilaku semacam itu adalah sebagian dari penyakit jiwa...? semua itu ber-efek negatif dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
Bukankah ketika dia
Menganggap sukunya paling hebat itu artinya suku lain paling rendah..?
Menganggap dirinya paling bisa sama artinya orang lain paling bodoh..?
Menganggap dirinya paling bersih itu artinya orang lain paling kotor..?
Menganggap dirinya paling adil sama dengan orang lain paling lalim..?
Menganggap dirinya paling peduli berarti pihak lain paling acuh..?
Wukuf di arafah mengajarkan manusia untuk tidak bersikap arogan pada orang lain saat dia berkumpul di sana mengenakan pakaian satu warna bersama berjuta orang bermunajat kepada Allah.
Semua bersemangat melontar batu dari satu jumroh ke jumroh lain tidak kurang dari 70 batu di lempar yang di bagi pada beberapa fase, harus tepat sasaran dan tidak boleh melesat bukan pada sasaran. itulah gambaran salah satu manasik haji. sepintas, pilar besar kokoh berdiri itu yang terus-menerus dan dari tahun ke tahun yang di lempari. ada Simbol apa di balik ini...? jawabnya cukup kita membaca kembali tentang sejarah keluarga Ibrahim as. silahkan di baca juga : http://maknaibadah.blogspot.co.id/2017/08/pesan-moral-keluarga-ibrahim-as.html
Iblis yang tidak suka dengan ketaatan Nabi Ibrahim as dan keluarganya terus memprovokasi agar tidak patuh kepada perintah Allah SWT. saat Nabi Ibrahim as melalui mimpinya diperintah Allah untuk menyembelih anaknya, Ismail as. nah si iblis tak ingin perintah Allah SWT itu terlaksana. Demikian juga saat diri dan keluarganya taat beribadah kepada Allah SWT si iblis tak ingin mereka semua menjalankan hal itu.
Kesel, sebel, keki, marah, muak atas segala provokasi iblis la'natullah itu, diambilah batu-batu dan dengan penuh semangat dilemparkan ke arah Iblis. rupanya Nabi Ibrahim as dan keluarganya tidak berhasil di goda si Iblis la'natullah.
Belum genap setahun masa hajinya, si haji terlihat asyik di bawah panggung berjoget bersama para penyanyi dengan segudang gaya dan goyangan plus dengan model baju ala kadarnya. si haji asyik bermain kartu domino dari pagi hingga malam lupa sholat. si haji asyik nongkrong di pinggir gang menjadi juri setiap kaum hawa yang lewat. si haji tetap asyik ngobrol kesana kemari saat tetangganya yang belum menunaikan haji mengajak dirinya pergi mengaji.
Lupakah dirinya kalau beberapa bulan yang lalu saat melontar jumroh dengan amat sangat bahkan sekuat tenaga dia lempar pilar batu kokoh bertengger itu yang sebenarnya adalah simbol perlawanan da ketegaran Nabi Ibrahim as dan keluarganya dalam menangkis segala bentuk propaganda Iblis la'natullah untuk tidak taat dan maksiat kepada Allah.
Semua berlari kecil dari bukit shafa ke bukit marwah dan dari marwah ke shafa sebanyak tujuh kali, itulah gambaran salah satu rukun haji dan umrah yang di sebut sa'i. sebagaimana yang di sebutkan dalam Fiqih Empat Mazhab : "Sa'i merupakan salah satu rukun di antara rukun-rukun haji dan umrah. demikian menurut pendapat Imam Malik dan Imam Syafi'i. namun Imam Hanafi berpendapat : "Sa'i merupakan kewajiban yang dapat di ganti dengan membayar Dam. sedangkan menurut pendapat Imam Hambali di peroleh dua riwayat : Pertama, wajib kedua mustahab.
Sepulang haji sikap masa bodoh dan ketidakpedulian terhadap pendidikan keagamaan anaknya, apalagi penderitaan masyarakat di sekitar semakin di perlihatkan. anak yatim dan kaum dhua'fa dengan segala teriakan batinnya sama sekali tidak terdengar.
Si haji lupa bahwa saat dirinya bersa'i disamping memang rukun haji dan umrah sebagaimana yang telah di sebutkan di atas, ada apa dengan simbol sa'i ini...? bukankah sa'i merupakan simbol perjuangan Siti Hajar dalam memperhatikan fisik dan mental-spiritual anaknya "Ismail as."..? dicarinya air kesana kemari dari bukit shafa ke bukit marwah.
Ciri Haji Mabrur antara lain : Kemampuan menginplementasikan simbol-simbol haji itu dalam wujud nyata dalam diri, keluarga dan masyarakat.
Sumber : Secangkir kopi Santri (kritik dan Celoteh), Muhammad Yusuf Hidayat-KH.Ma'mur Murod-Fiqih Empat Mazhab
"Semoga Bermanfaat"

Komentar
Posting Komentar