Langsung ke konten utama

Fiqih Berda'wah

Berhenti berda'wah karena merasa tak pede demi melihat sanak family yang selalu kontraproduktif dengan nilai-nilai da'wahnya adalah sebuah realitas yang tidak realistis dan tidak logis bahkan jauh dari tuntunan da'wah.

Al-Qur'an bukan kitab sejarah tapi banyak menceritakan sejarah Nabi yang berda'wah mengajak kaumnya. rintangan dan perlawanan keras malah kadang keluar dari sanak famili mereka sendiri. Nabi Luth as berda'wah mengajak kaumnya. untuk meninggalkan perbuatan keji homosex dan lesbian, tapi sang istri malah menjadi pembangkang utamanya. Namun demikian dia tetap berda'wah menyadrkan kaumnya. 

Nabi Ibrhim as berda'wah mentauhidkan kaumnya dari penyembahan berhala-berhala, tapi sang bapak malah asyik menjajakan tuhan-tuhan buatanya di pasar. Diapun tetap berda'wah mengajarkan nilai-nilai Tauhid.

Nabi Nuh as. berda'wah menyadarkan kaumnya untuk tidak terus-menerus membangkang perintah Allah, tapi sang anak malah tidak mau mengikuti seruan ayahnya. Dia pun terus berda'wah.

Nabi Muhammad saw. berda'wah mentauhidkan umatnya dan mengajak untuk mematuhi perintah dan menjauhi larangan Allah SWT. beberapa paman nya malah menjadi penentang dan pembangkang nomor wahidnya. Dia tetap istiqomah berda'wah.

Ingat berda'wah itu bersifat umum tidak hanya kepada sanak famili. dan tidak perlu berhenti berda'wah kepada orang lain hanya karena sanak famili kita belum berhasil kita ajak. Walau ayat Al-Qur'an menegaskan "Dan berilah peringatan kepada keluargamu terdekat". (Qs.As-Syu'ara : 214)

Ayat di atas jangan di pahami bahwa kita terlebih dahulu menyadarkan sanak famili kita, dalam arti setelah sanak famili sadar baru kemudian kita beranjak kepada orang lain. Ingat, hidayah itu milik Allah, kita hanya sebab. jadi, jangan berhenti berda'wah kepada orang lain hanya karena sanak famili kita membandel. cukuplah gambaran tentang berda'wah para Nabi di atas tadi yang tidak menunggu sanak famili nya sadar terlebih dahulu. semua di lakukan secara berbarengan, sebab medan dan objek da'wah adalah bersifat dan tertuju umum.

Bila wejangan di atas di setujui, tinggalah kini berhati-hati dalam berda'wah mengikuti pola berda'wah lewat berceramah yang nyaris kebablasan.

Ceramah tidak identik dengan berda'wah, bahkan ceramah sering mempolitisir kalimat da'wah, sebab terlihat belakangan ini nyaris sulit membedakan mana ceramah mana pelawak.

Masyarakat kepingin ceramah penuh canda dan tawa. Nah, demi sebuah pemuasan yang ngundang ia pun terajak (terda'wah) mengikuti pola masyarakat yang semestinya ia mengajak berda'wah.

Berguyon dalam da'wah sah-sah saja selama berniat penyegaran dan menghilangkan ketegangan, tapi kalau penampilan dari awal, pertengahan hingga akhir yang keluar dari mulutnya tidak lebih sebatas guyonan, sebaliknya jangan berprofesi sebagai juru da'wah, insya Allah melamar jadi pelawak jaminan diterima atau ikut kontestan pasti akan menang.

Mau di bawa kemanakah umat ini, hai para penceramah..? bila sepotong ayat, sepenggal hadits, sekelumit makalah ulama sama sekali tidak keluar dari mulutnya yang katanya meng-klaim sedang berda'wah. padahal modal kita berda'wah jelas-jelas adalah warisan Nabi SAW. dialah Al-Qur'an dan Al-Hadits.

Semestinya, sampaikan dulu modal itu (Al-Qur'an dan Al-Hadits) sesuai dengan problematika da'wah yang di hadapi, kemudian jabarkan sebisanya dengan tetap merajuk penjabaran para mufassir dan para Mujtahid. jangan ngolor-ngidul tak pugu lagu dengan berlawak ria dari awal hingga penghabisan.

Setelah wajangan di atas pun disepakati, tinggalah karakter yang kedua yaitu ikhlas dalam berda'wah, sebab "Ilmu masuk dari hati yang bersih (ikhlas) ke hati yang bersih."

Ikhlas berarti bahwa apapun yang disampaikan saat da'wah semata-mata ingin merubah prilaku manusia kepada akhlak yang baik, jauh dari keinginan untuk mendapat pujian, tepuk tangan, dan sanjungan karena ujungnya akan membuat lelah fisik, mental dan hati. bukan supaya di bilang ini dan itu apalagi tibang kepingin di bilang juga ber-orasi, plus mencari kekayaan duniawi.

Diongkosin dan dihadiahkan saat pulang berda'wah itu memang sebuah kewajaran. tapi akan menjadi sebuah pelecehan dan kekurang-ajaran da'wah bila anda tidak bisa membedakan maan sedang berda'wah dan berbisnis.



Source : Muhammad Yusuf  Hidayat, KH.Ma'mur Murod

Komentar